Slider

TEMAN WAKTU KECIL

 

ABADAN, adalah seorang direktur utama yang sukses membangun perusahaannya dibidang ekspor hasil perkebunan kakau. Kehidupan sosial dan ekonominya sangat baik. Kehidupan keluarganya pun sangat harmonis. Dia sangat mencintai istrinya, TANTRI, dan juga anaknya, PRITANIA , selain itu dia juga sangat menyayangi dan menghormati ibunya, BU DARSIH.

Pada suatu hari Abadan ditelfon oleh keponakannya, NUNUNG , yang menjaga dan menemani Bu Darsih. Dikabarkan sang ibu sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Abadan diminta segera pulang dan menjenguknya. Tanpa pikir panjang dia pun segera meninggalkan segala kesibukannya di Jakarta dan segera pulang kampung. Kampung kelahiran yang banyak meninggalkan kenangan indah dan juga rasa pahit karena terlahir sebagai keluarga miskin pada masa lalunya.

Ketika berjumpa dengan ibu, dengan segala rasa hormat Abadan memintanya agar mau pindah ke Jakarta dan hidup bersama di rumah mewah miliknya. “Ikutlah ke Jakarta, Bu. Biar Abadan, anakmu, bisa merawat ibu sebaik-baiknya. Paling tidak setiap hari kita bisa ketemu.” Sang ibu menolaknya dengan alasan dia lebih betah tinggal di kampung. “Ibu hanya betah tinggal di kampung ini, bapakmu dikubur disini. Disini Ibu juga bisa ngaji buat bekal mati, kalau disana mau ngaji dimana coba? Omahmu saja sengaja yang jauh dari masjid. Supaya tidak terganggu suara adzan, iya tho?”. Abadan tidak bisa memaksa ibunya, dia pun mengalah dan berjanji untuk pulang kampung menengok ibunya sebulan sekali.

Namun satu hal yang tidak disukai oleh Abadan ketika dia pulang kampung adalah saat teman-teman masa kecil berkunjung menemuinya. Dia beranggapan mereka selalu berusaha mengungkit-ungkit jasanya saat keadaan keluarganya dalam kondisi sulit. Shingga membuat Abadan merasa berhutang budi terhadap mereka dan harus membalasnya karena saat ini kehidupannya jauh lebih sukses dari mereka. Sementara Abadan merasa bahwa semua keberhasilan dia adalah jerih payahnya sendiri.

SUPRIADI berkunjung ke rumah Bu Darsih kerena dapat kabar Abadan, teman baik masa kecilnya pulang. Tapi sayang tidak sempat bertemu karena sohibnya itu sudah kembali ke Jakarta. Dia sangat menyesal. Bu Darsih memberi saran ke dia untuk pergi ke Jakarta karena katanya Abadan juga kangen dan ingin bertemu dengan dirinya.

Abadan sangat gembira ketika Supriadi akhirnya mau mengunjungi dirinya di Jakarta. Abadan menganggap dia adalah teman masa kecil terbaik dan banyak memiliki kenangan indah bersamanya dibanding dengan teman-teman masa kecil yang lain. Kegembiraan itu mereka ungkapkan dengan cara bernostalgia bersama. Bercerita tentang kenangan indah dan haru ketika mereka bersama di masa kecil. Tantri dan Prita yang mendengarkan cerita masa lalu bapaknya bersama Supriadi pun ikut larut dalam kegembiraan. Hingga akhirnya sampai pada cerita tentang Supriadi yang dulu menjual ayam jago bapaknya demi untuk membayar biaya uang sekolah Abadan yang nunggak tiga bulan dan terancam tidak bisa ikut ujian.

Cerita ayam jago ternyata membuat Abadan tersinggung, dia menganggap kedatangan Supriadi ternyata hanya untuk meminta balas jasa atas budi baiknya di masa lalu. Dia fikir, Supriadi tak ada bedanya dengan teman-teman masa kecilnya yang lain di desanya yang berharap imbalan materi karena dirinya sekarang sudah sukses dan kaya. Dengan kesal Abadan berkata “Akan saya kembalikan! Saya nggak mau berhutang budi kepada siapapun. Kepada siapapun!!!” dia menulis dan memberikan cek senilai lima puluh juta sebagai ganti ayam jago yang dulu dijual demi untuknya. Tentu saja Supriadi menolak, karena kedatangannya tanpa niat sedikit pun meminta balas jasa. Dia hanya cuma ingin bernostalgia. Abadan yang sudah kadung tersinggung tidak mempercayainya. Dia meminta Supriadi segera pergi. Namun, Supriadi tak mau pergi dari rumah mewah itu sebelum Abadan mau mengerti dan memaafkan dirinya yang telah membuat temannya itu tersinggung. Dia menunggu di gerbang depan rumah hingga dua hari dua malam kepanasan dan kehujanan demi membuktikan anggapan Abadan terhadap dirinya salah.  Ini sebuah harga diri pertemanan. Abadan harus tahu!

 

CERITA                                                  : IMAM TANTOWI

SKENARIO                                          : IMAM TANTOWI

PRODUSER                                          : ASAD AMAR                                                   

SUTRADARA                                       : DENNI PUSUNG

PERAN UTAMA PRIA                      : T RIFNU WIKANA

PERAN UTAMA PRIA                      : DICKY WAHYUDI

PERAN UTAMA WANITA              : YATI SURACHMAN                 

PERAN PEMBANTU WANITA      : FIDYA HALIZA

PENATA CAMERA                            : GUNUNG NUSA PELITA

PENYUNTING GAMBAR                : BAYU SAMANTA

PENATA ARTISTIK                           : MASBRENKS

PENATA MUSIK                                : THOERSI ARGESWARA

PENATA SUARA                                : HARI AS SYAMSUAR

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn