Slider

SONTOLOYO

Kampung Ngorong dilanda bencana krisis air yang disebabkan kemarau panjang. Delapan bulan lebih hujan tidak turun di kampung itu. Akibatnya, kehidupan sehari-warga berubah drastis. Semaksimal mungkin warga berpikir bagaimana caranya agar air di dapurnya tidak habis dan cukup untuk bertahan hidup.

Semua sumber mata air dan sumur yang ada di kampung itu kering, tak terkecuali sumur milik SADI, Kiai Kampung, (55thn) yang merupakan sumur terakhir yang ada airnya  juga habis. Melihat kekeringan semakin parah, Sadi mengajak para warga untuk shalat Istisqa’/ shalat meminta hujan setelah shalat Dhuhur.

Namun nasib berkata lain. Saat memasuki sujud terakhirnya, Sadi yang bertindak sebagai imam shalat meninggal dunia. Warga kebingungan. Karena ini pertama kalinya di kampung, ada warga yang meninggal saat kekeringan.

Di rumah duka sedang diadakan musyarawah untuk merawat jenazah. TAYO (35thn) dan beberapa warga mengusulkan agar jenazah di tayamumi. Namun, anak Sadi, LULU (23th) dan LIPO (17thn) tidak mau, mereka ingin jenazah bapaknya dimandikan seperti umumnya.

TAKMIR (45thn), sebagai tokoh agama di kampung itu meminta para warga untuk bersedia mengumpulkan air warga yang tersisa untuk digunakan memandikan jenazah Almarhum Sadi. Namun TAYO (35thn) menolak karena situasi sangat genting, kalau air disumbangkan, persediaan air yang ada akan habis sementara belum ada kepastian kapan datangnya hujan atau kiriman air dari pemerintah. Apalagi beberapa warga memiliki anak balita yang tentunya lebih membutuhkan air.

Mendengar itu, Lulu marah. “Bapak ibu sekalian, saya mau bertanya. Siapa disini yang ndak punya air walaupun hanya sebotol? Siapa?! Kalau bapak bisa memilih kapan bapak akan meninggal, aku yakin, bapak ndak akan memilih meninggal sekarang. Tapi akan memilih saat musim hujan. Karena bapak tidak ingin menyusahkan siapapun.” Ujar Lulu kepada Warga.

Tak lama berselang, Takmir menerima telepon dari pemerintah yang memberitahu tentang jatah air bersih yang telat akan dikirim nanti sore. Mendapat kabar itu, Takmir riang. Takmir meminta tolong untuk segera dikirim langsung ke lokasi rumah warga yang meninggal.

Semua warga merasa lega. Beberapa dari warga berbisik-bisik lalu pulang. Tak lama kemudian lebih banyak warga yang datang ke rumah duka, mereka berbondong-bondong sambil membawa ember, jerigen, dll yang akan digunakan sebagai wadah air. Niat mereka sudah tidak untuk takziah jenazah lagi. Melainkan untuk mendapatkan air. Takmir tak habis pikir dengan kelakuan warga di desanya yang sontoloyo.

Sudah lama warga menunggu kedatangan air, namun mobil tanki air yang dinanti tak kunjung datang. Warga mulai resah, mereka meminta Takmir menelpon supir tapi tak kunjung diangkat.

Mobil tanki air mogok. Tawu, Kondektur Mobil Tanki (30th) dan Adus, Supir Mobil Tanki (30thn)  memperbaiki radiator mesin yang overheat. Saat sibuk memperbaiki mesin, kejadian buruk menimpa, mobil tanki air dijarah airnya oleh warga kampung lain yang juga mengalami kekeringan. Air di mobil habis. Keduanya pulang untuk mengisi air lagi dan mengirimkannya ke Kampung Ngorong.

Takmir meminta tolong JIBUN (25thn) dan GUNJIL (25thn) untuk mencegat dan mengawal mobil tanki yang lewat agar tidak kembali di jarah. Sementara Takmir mengajak para warga untuk melaksanakan shalat Istisqa’ seperti apa yang dipesankan oleh Almarhum Pak Sadi sebelum shalat Dhuhur tadi. Awalnya beberapa warga menolak, karena saat itu cuaca di lapangan sedang panas-panasnya. “Kalau shalat di lapangna sama saja berjemur, keringetan, terus minum air terus, sedangkan air kita sudah menipis kata Tayo, iyakan oleh warga lainnya. Namun dengan diberi penjelasan dan pengertian oleh takmir, semua warga akhirnya mengiyakan ajakan shalat Istisqa’.

Selesai shalat, langit tak kunjung mendung, tak ada tanda-tanda hujan akan datang. Takmir kembali mengajak para warga untuk mengumpulkan air guna memandikan jenazah. Tayo kembali menolak, karena belum ada kejelasan. Takmir menelpon Gunjil dan Jibun. Kabar gembira datang, mereka sudah mengawal mobil tanki dan sedang dalam perjalanan menuju kampung Ngorong.

Karena sudah ada kejelasan, maka para warga bersedia mengumpulkan air dan menyumbangkannya untuk memandikan jenazah. Ketika warga mengumpulkan air, mobil tanki yang dikawal Jibun dan Gunjil datang. Semua warga bergegas antri. Namun, ternyata Gunjil dan Jibun salah mengawal. Mobil tanki yang dikawal bukanlah mobil tanki air kiriman dari pemerintah, melainkan mobil sedot WC. Semua warga masygul dan hendak meminta kembali airnya.

Takmir pasrah. Ia mempersilahkan air yang sudah dikumulkan oleh warga untuk diminta kembali. “Silahkan. Silahkan ambil kembali air yang kalian sumbangkan tadi. Tidak ada paksaan dalam agama. Kita akan memandikan dengan air yang diberikan dengan ikhlas. Jika semua tidak ikhlas, kita akan mensucikan jenazah dengan cara tayamum.” Ujar Takmir kepada para warga. Setelah semua warga mengambil jatah airnya masing-masing, beberapa warga pulang ke rumahnya.

Sisa air dari warga yang mengikhlaskan airnya dirasa cukup digunakan untuk memandikan jenazah, namun sial tak dapat ditolak, air yang berada di dalam drum plastik itu terjatuh saat hendak diangkat. Air habis. Matahari semakin meredup, malam akan datang. Tayamum adalah pilihan terakhir.

Takmir hendak tayamum, namun saat ia menepukkan kedua tangannya ke tanah, satu persatu buliran air jatuh membasahi tanah. Hujan turun, semua warga gembira, mereka sujud syukur dan bergegas mengambil wadah untuk menadahi air hujan yang turun.

CERITA                                                  : SYAIKHU LUTFI & AMIRUDIN OLLAND

 SKENARIO                                          : SYAIKHU LUTFI

PRODUSER                                          : ASAD AMAR                                                      

SUTRADARA                                       : KIKY ZAKARIA

PERAN UTAMA PRIA                      : RAHMAN YACOB

PERAN UTAMA PRIA                      : FUAD IDRIS

PERAN PEMBANTU PRIA              : MASTOHIR JAKASMO

PERAN PEMBANTU PRIA              : KUKUH PRASETYO                 

PERAN PEMBANTU WANITA      : JOANA DYAH

PENATA CAMERA                            : ARYO CHICKO

PENYUNTING GAMBAR                : HANIF RIDLO

PENATA ARTISTIK                           : DEKO DINATA

PENATA MUSIK                                : THOERSI ARGESWARA

PENATA SUARA                                : HARI AS SYAMSUAR

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn