Slider

Para Pencari Tuhan Jilid 12

Lupakan Kampung Kincir yang sudah menjadi genangan abadi.

“Saya kuatir kita ini lagi mirip kaum-kaum yang dilaknat Allah di jaman para nabi dan rasul dulu, yang sekarang tinggal jadi situs sejarah dan obyek wisata,” kata Bang Jack (Deddy Mizwar) ketika memimpin migrasi warga ke pemukiman baru di atas bukit yang bernama Kampung Atas. “Pindah tempat, pindah nasib. Insya Allah, ini hijrah yang membawa kita ke kehidupan yang lebih baik.”

Ini kehidupan masyarakat Kampung Kincir pasca banjir besar. Kampung telah hancur, hanyut, dan tenggelam di bawah genangan abadi. Kondisi ekonomi porak-poranda, banyak di antara warga yang menjadi pengemis atau kriminal temporer untuk bertahan hidup. Kondisi sosial acak-acakan, mayoritas warga kehilangan identitas dan profesi. Kondisi psikologis mereka drop seperti seorang wanita yang dilempar begitu saja ke jalanan dan ditinggalkan oleh kekasihnya. Rasa sakit hati dan apatis atau malah penuh dendam kesumat terhadap pihak yang membuatnya terpuruk. Tuhan.

“Tuhan tidak pernah menyukai kita,” kata salah seorang warga Kincir, yang kemudian memicu wacana baru bahwa selama ini mereka telah mengimani tuhan yang salah.

Hanya sebagian kecil saja yang survive, baik secara psikologis maupun keimanan. Mereka adalah orang-orang yang berjuang mempertahankan imannya untuk tidak ikut hancur atau tenggelam bersama kampung mereka. Orang-orang itu antara lain Bang Jack, keluarga Pak Jalal, duo Udin-Asrul, dan beberapa warga lainnya.  Bang Jack bersama Pak Jalal (Jarwo Kwat) berusaha memulihkan kembali sebagian warga kampung Kincir secara sosial, ekonomi, dan keagamaan dalam rangka pemulihan mental warga, yang bertugas menjalankan program bimbingan rohani untuk tetap berpijak pada iman agamanya. Dalam kondisi keimanan macam itulah warga Kincir menghadapi masalah yang lebih berat dari bencana banjir yang pernah mereka alami.

Bombi (Rochman), pemuka masyarakat, bersama warga asli Kampung Atas merasa terganggu dengan kedatangan orang-orang beragama, yang dianggap bertentangan dengan tradisi animisme dan klenik yang mereka jalankan sejak jaman nenek-moyang dulu. Itu sebabnya, di kampung ini tidak ada mushola, apalagi masjid. Hanya ada satu keluarga muslim yang masih bertahan disitu, yakni keluarga Abah Nyinyi (H. Nurul Qomar) — seorang lelaki kecil lincah yang hidup bersama anak gadisnya saja, Aliya (Silvia Anggraini) di rumah kecilnya. Dia cukup alim dalam hal agama, tapi keberatan dipanggil ustadz.

“Disini, panggilan ustadz sama kayak diteriakin maling di kampung lain,” tuturnya kepada Bang Jack dan orang-orang Kincir. Dia lebih suka dipanggil ‘abah’. Abah Nyinyi.

Bersama Abah Nyinyi, Bang Jack memperkenalkan lagi tuhan kepada warga lokal. The problem is … mereka sudah punya tuhan-tuhannya sendiri, yang bersemayam di pohon-pohon besar, di batu besar, atau di danau kecil di tengah hutan. Mereka juga tidak butuh ustadz atau semacamnya, karena merasa sudah punya “wakil-wakil tuhan” dalam bentuk dukun, orang pintar, atau paranormal yang selama ini mendampingi dan membimbing mereka dalam menjalani hidup. Melalui para wakilnya, tuhan-tuhan itu tampil lebih menjanjikan, mudah difahami, dan tidak menuntut macam-macam. Tuhan-tuhan itu memudahkan para pengharapnya tanpa konsekwensi ritual yang rumit. “Cukup beberapa lembar uang dan keinginan Anda sudah terkirim ke langit,” promosi seorang perantara.

“Sekarang tuhan punya saingan,” komentar Udin (Udin Nganga).

“Tuhan mungkin punya saingan, tapi Allah enggak,” bantah Bang Jack.

“Yang terjadi di sekeling kita apa, Bang?! Itu semua buktinya! Mereka rame-rame ngantri menyampaikan proposalnya di gubuk dukun. Jumlahnya lebih banyak daripada jamaah mushola kita!” tanggap Asrul (Asrul Dahlan).

“Tuhan-tuhan itu, ada nggak yang kepikiran buat mengklaim telah menciptakan alam semesta? Tuhan mana yang kepikiran sampe kesitu kalau bukan tuhan yang sebenarnya? Allah subhanahu wa ta’ala satu-satunya tuhan yang mengaku Dia satu-satunya, Dia yang menciptakan alam semesta, dan Dia satu-satunya tuhan yang memberikan informasi tentang hidup sesudah mati.” jawab Bang Jack mulai gemas.

“Gimana kalo Allah bohong atau cuma ngaku-ngaku, Bang?” tanya balik Udin.

Sorry to say, bukti tentang adanya kehidupan akhirat itu baru bisa kita saksikan setelah mati.”

“Kenapa nggak sekarang aja selagi kita masih hidup?” kejar Udin lagi.

“Kan kita lagi ngomongin kehidupan sesudah mati. Ya, kita harus mati dulu. Tapi, kalo lu udah nggak sabar, sini, sini, gue bantuin. Sini, sini!” ujar Bang Jack sambil mencabut cangkul. Udin dan Asrul langsung kabur.

Dan penghamba tuhan-tuhan baru itu semakin banyak, terorganisir bersama aktivis kebudayaan, dan kian kuat.

Di sisi lain ada Bang Naga (Deddy Mizwar) yang wajahnya persis dengan Bang Jack. Dia jauh-jauh datang dari Medan untuk belajar agama Islam kepada Kyai Zuhud yang ternyata sudah meninggal. “Hilang sudah ilmu yang Allah karuniakan kepadanya.” Bang Naga pun mencari guru pengganti, dan akhirnya sampai di Kampung Atas bertemu dengan Abah Nyinyi. “Hendaklah engkau selalu bersama Allah. Jika tidak mampu, berusahalah selalu bersama orang-orang yang dekat dengan Allah. Karena sesungguhnya orang itulah yang akan menyampaikanmu kepada Allah.” Bang Naga pun mantap berguru padanya.

Dicerita lain, Viral (Miqdad Addausy) sedang berjuang untuk melamar kekasihnya, Hera (Nadya Fricella). Kisah percintaan mereka selalu saja menemui hambatan yang menghalangi mereka menuju gerbang pernikahan. Salah satu hambatan mereka ibunya Viral, Nurlaela (Dina Lorenza) yang lebih memihak pada Aliya(Silvia Anggraini), perempuan solehah yang ideal untuk dijadikan menantu. Hambatan lain, Hera dilamar oleh Fadly (Dimas Anggara), pemuda yang karirnya sukses sekaligus soleh. Mampukan Viral dan Hera mempertahankan cinta yang Allah karuniakan kepada mereka diantara cobaan yang ada? Wallahu a’lam. ***

 

Tayang setiap hari selama bulan Ramadhan jam 03.00 di SCTV

Bagi yang ketinggalan tayangannya, bisa ditonton disini

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn