Slider

Mengenang Yang Terlupakan

Dirno(70 th ) dihadapkan sebuah situasi yang sangat sulit. Diumurnya yang sudah tua, dia mulai tersisihkan. Padahal semangatnya untuk mengabdi pada sekolah masih sangat tinggi. Sudah empat puluh lima tahun dia mengabdi untuk sekolah itu sebagai penjaga sekolah. dia ingin sampai mati tetap mengabdi untuk sekolah. tapi sayangnya, beberapa guru sudah mulai protyes karena pekerjaan Dirno kurang memuaskan. Dia sering lupa membersihkan meja guru, telat membukakan gerbang dan mulai lamban. Dilihat dari segi manapun, Dirno harus segera dipensiunkan. Dia sudah tidak bisa kerja di sekolah lagi. Kepala Sekolah yang mendapat protes dari guru soal pekerjaan Dirno, bingung. Satu sisi dia kasihan dengan Dirno, tapi satu sisi dia tidak mungkin membirkan proses belajar mengajar tertanggu karena Dirno sudah mulai lamban dan pikun. Akhirnya dengan hati-hati, Kepala Sekolah memutuskan untuk mencari asisten untuk membantu pekerjaan Dirno. Karena tidak mau menyinggung hati orang sudah mengabdi selama puluhan tahun untuk sekolah ini, Kepala Sekolah memberi kesempatan pada Dirno untuk mencari sendiri asisten yang akan bantu bantu dia. Seminggu berlalu, Dirno tidak juga menemukan asisten yang bisa membantu dia. Sebenarnya dia sudah menawarkan pekerjaan itu pada Kamal(40 th ) salah satu alumni sekolah yang kini bekjerja sebagai tukang ojek dan masih sering hutang pada Dirno. Tapi sayang, Kamal menolak. Dia gengsi kalau harus jadi tukang bersih-besih di almamater-nya. Karena tidak juga mendapatkan asisten, akhirnya Kepala Sekolah memutuskan sendiri siapa yang jadi asisten Dirno. Lalu muncul Basori(30 th ) yang akan menjadi asisten Dirno. Sebagai penajaga sekolah senior, Dirno diberi tugas untuk memberi pengarahan pada Basori. Dua penjaga sekolah itu bekerja sama dengan sangat baik. Tidak ada complain lagi soal kerbersiahan sekolah. Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar. Namun timbul persoalan baru. Dirno dan istrinya harus pergi meninggalkan rumah dinas yang selama ini mereka tempati selama empat puluh lima tahun. Sebenarnya tidak ada yang meminta atau menyuruh Dirno dan istrinya pergi dari rumah itu. Keputusan pergi itu Dirno ambil sendiri. Rasa welas asih yang ada di hati Dirno membuatnya rela berkorban untuuk penjaga sekolah baru, Si Basori. “Terus kita mau tinggal dimana, Pak?” begitu tanya istri Dirno sedih karena harus pergi. Mereka berdua adalah sepassang suami istri yang tidak dikaruniai anak dan tidak lagi punya saudara. Namun bukan Dirno kalau tidak bisa berbuat baik meskipun dalam keadaan terjepit. Dirno memutuskan untuk keluar dari rumah dinas dan ngontrak rumah di dekat sekolah. Disisi lain, bagi para alumni sekolah, Dirno dan istrinya sudah menjadi bagian kecil namun  penting dalam hidup mereka. Kebaikan dan ketulusan Dirno dan istrinya telah menyentuh hati para alumni hinggga memutuskan untuk mebelikan rumah untuk Dirno dan istrinya. Ide membelikan rumah itu diinisi oleh Aziz, alumni sekolah yang sekarang sudah jadi seorang menteri. Dia menghubungi Kamal alumni yang paling dekat dengan Dirno. Dari Kamal, lalu disebarkanlah rencana membelikan rumah pada para alumni yang lain. Tidak butuh waktu lama, uang sudah terkumpul dan Kamal langsung membelikan rumah pada untuk Dirno dan istrinya. Namun sayang, ketika para alumni ingin memberikan kejutan pada Dirno, mereka sendiri justru terkejut sebab Dirno meninggal dunia lebih dahulu. Hari itu sekolah berduka, para alumni datang untuk mengantarkan Dirno menuju rumah terakhirnya. Dirno sudah menepati janjinya pada almarhum Pak Rahmat, kepala sekolah terdahulu yang mengajaknya kerja 4 di sekolah. dia tidak akan meninggalkan sekolah ini. Dia akan terus mengabdi untuk sekolah ini sampai nafasnya tidak ada lagi. “Langkah-langkah kebaikan Pak Dirno selama bersama kita seperti berjalan diatas pasir basah. Jelas tidak ada suaranya, tapi jejaknya jelas membekas di hati kita semua.” Begitu kenang Kepala sekolah di pemakaman Dirno. Semua pelayat menangis sambil tersenyum mengenang keceraian dan kebaikan Dirno.

CERITA                                                  : DEDDY MIZWAR

 SKENARIO                                          : HARIS SUHUD

PRODUSER                                          : ASAD AMAR                                                            

SUTRADARA                                       : HERWIN NOVIANTO

PERAN UTAMA PRIA                      : MASTOHIR JOKASMO

PERAN PEMBANTU PRIA              : RAHMAN YACOB

PERAN PEMBANTU PRIA              : HARRY DE FRETES

PERAN PEMBANTU PRIA              : ASRUL DAHLAN              

PERAN PEMBANTU WANITA      : MUTHIA DATAU

PERAN PEMBANTU WANITA      : PUTRI PATRICIA

PENATA CAMERA                            : GUNUNG NUSA PELITA

PENYUNTING GAMBAR                : HANIF RIDLO

PENATA ARTISTIK                           : MASBRENKS

PENATA MUSIK                                : THOERSI ARGESWARA

PENATA SUARA                                : HARI AS SYAMSUAR

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn